Jumat Pagi di PPIQS: Rehat Sejenak, Menguatkan Hafalan dan Menjaga Kualitas Bacaan

Boyolali — Hari Jumat menjadi salah satu momentum bagi para santri Pondok Pesantren Itqan al-Qur’an al-Salmaniyah (PPIQS) untuk sejenak mengambil jeda dari rutinitas pembelajaran. Namun, masa rehat tersebut bukan berarti berhenti dari aktivitas belajar. Justru, waktu tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat kualitas bacaan dan hafalan para santri.

Rangkaian kegiatan Jumat diawali dengan shalat Tahajud berjamaah. Suasana malam yang tenang dimanfaatkan para santri untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus mempersiapkan diri sebelum memasuki rangkaian kegiatan berikutnya.

Selepas Tahajud, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Nailul Muna, sebuah manzhumah atau nazham Asmaul Husna yang berisi syair-syair Asmaul Husna. Nailul Muna karya Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani ini dikenal luas di lingkungan pesantren dan diamalkan sebagai bagian dari wirid, doa, serta tawassul.

Nailul Muna merupakan Manzhumah Asmaul Husna yang disusun oleh Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani, seorang ulama abad ke-19 asal Libanon yang pernah menempuh pendidikan di Al-Azhar Mesir. Di Indonesia, tradisi pengamalan nazham ini antara lain dikenal melalui transmisi keilmuan para ulama pesantren, dari K. Muh. Wahib al-Hafidz (guru dari pengasuh PPIQS ) dari KH. Muhammad Arwani Amin al- Kudsy dari KH. Ali Ma’shum Krapyak Yogyakarta, yang menerima ijazah dari Syaikh Mahfuzh at-Tarmasi.

Setelah shalat Subuh berjamaah, para santri kemudian membentuk halaqah untuk mengikuti kegiatan munadzoroh, yakni diskusi dan pengujian kemampuan ilmiah secara bersama-sama. Dalam kegiatan kali ini, munadzoroh dilakukan dengan metode estafet per ayat, yang dipimpin langsung oleh pengasuh pesantren.

Metode tersebut tidak hanya melatih keberanian dan konsentrasi santri, tetapi juga menjadi sarana untuk mengetahui sejauh mana penguasaan hafalan masing-masing santri. Setiap santri dituntut untuk menyimak dengan baik, melanjutkan ayat dengan tepat, serta memperhatikan bacaan dan tajwid.

Kyai Syahirul Alim, S.Ag., Al-Hafidz, selaku pengasuh, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses pembinaan dan evaluasi hafalan santri.

“Kegiatan ini merupakan implementasi sekaligus evaluasi kualitas hafalan dan bacaan para santri. Penjagaan kualitas bacaan juga menjadi bagian dari penanaman kedisiplinan,” jelas beliau.

Menurutnya, menghafal Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan mengejar jumlah hafalan. Hafalan yang telah diperoleh harus senantiasa murajaah, dijaga kualitas bacaannya, dan dievaluasi secara berkelanjutan.

Melalui kegiatan Jumat pagi tersebut, para santri PPIQS mendapatkan ruang untuk menyegarkan kembali semangat belajar sekaligus memperkuat hafalan Al-Qur’an. Perpaduan antara ibadah, pembacaan Nailul Muna, shalat Subuh berjamaah, dan munadzoroh menjadi bagian dari ikhtiar pesantren dalam membentuk santri yang tidak hanya kuat dalam hafalan, tetapi juga disiplin, teliti, dan memiliki tradisi keilmuan.

Sebab bagi seorang penghafal Al-Qur’an, menjaga hafalan bukanlah pekerjaan sesaat. Ia merupakan proses panjang yang membutuhkan istiqamah, kedisiplinan, ketelitian, dan kesungguhan.

Jumat pun menjadi waktu untuk “beristirahat” dari rutinitas pembelajaran, tetapi tetap berjalan dalam suasana ibadah, ilmu, dan penjagaan Al-Qur’an.