Semaan Al-Qur’an bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan sebuah momentum berharga dalam mengasah kemampuan santri, melatih ketahanan mental, serta memperkuat hafalan yang telah dibangun dengan penuh kesungguhan. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkenalkan program tahfidz kepada para wali santri, sehingga mereka dapat menyaksikan langsung proses dan capaian putra-putrinya.

Pada kesempatan kali ini, semaan Al-Qur’an menghadirkan salah satu santri, Muhammad Aghla Daffa Mu’afa, putra dari Bapak Iwan Herawan yang berasal dari Solo, Jawa Tengah. Saat ini, ia duduk di bangku kelas VIII MTs dengan capaian hafalan yang telah mencapai 12 juz. Sebuah prestasi yang patut diapresiasi dan menjadi inspirasi bagi santri lainnya.
Kegiatan semaan dimulai sejak pukul 06.30 WIB hingga menjelang waktu Magrib. Selama berlangsungnya acara, para santri memperdengarkan hafalan mereka dengan penuh khidmat. Tidak hanya itu, pondok juga mengadakan sarasehan antara pengasuh dan wali santri sebagai wadah komunikasi, evaluasi, serta penguatan sinergi dalam mendampingi proses pendidikan Al-Qur’an.
Dalam sambutannya, Syahirul Alim, S.Ag selaku pengasuh Pondok Pesantren Itqan Al-Qur’an Al-Salmaniyah menyampaikan bahwa program semaan satu majlis ini memiliki peran penting, tidak hanya sebagai ajang latihan, tetapi juga sebagai sarana evaluasi kualitas bacaan, kekuatan hafalan, serta kesiapan mental santri dalam memperdengarkan hafalannya di hadapan wali santri.
Beliau juga menegaskan bahwa program “5 juz-an dan kelipatannya” merupakan salah satu program unggulan yang telah disusun secara terstruktur. Melalui program ini, santri tidak hanya dituntut untuk mencapai target hafalan, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga dalam proses murojaah dan penguatan mental.
Apresiasi tinggi turut disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Abdul Matin bin Salman, Lc., M.Ag selaku muassis PPIQS dan dosen UIN Raden Mas Said Surakarta. Beliau menyampaikan pesan penuh makna, “Man shobaro dzofiro,” yang berarti barang siapa yang bersabar, maka ia akan beruntung. Menurut beliau, keberuntungan terbesar bukan hanya pada capaian duniawi, tetapi ketika seseorang memiliki anak yang mau belajar Al-Qur’an dan mengamalkannya, itu jauh lebih berharga daripada dunia dan seisinya.
Semaan Al-Qur’an ini menjadi bukti nyata bahwa proses pendidikan Al-Qur’an tidak hanya berfokus pada hafalan semata, tetapi juga membentuk karakter, kesabaran, serta kedekatan santri dengan Al-Qur’an. Harapannya, kegiatan ini terus menjadi motivasi bagi santri untuk istiqamah dalam menghafal dan mengamalkan Al-Qur’an, serta menjadi kebanggaan bagi orang tua dan umat.

