
BOYOLALI — Pondok Pesantren Itqan al-Qur’an al-Salmaniyah (PPIQS) terus berupaya memberikan pembekalan yang komprehensif kepada para santri. Selain mendalami hafalan Al-Qur’an dan berbagai disiplin ilmu keagamaan, para santri juga dibekali keterampilan praktis sebagai bagian dari pendidikan kemandirian.
Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah pelatihan keterampilan berwirausaha melalui praktik pembuatan susu kedelai. Kegiatan ini menjadi wahana pembelajaran bagi santri untuk mengenal proses produksi, perhitungan modal, pengelolaan usaha, hingga potensi hasil yang dapat diperoleh dari sebuah produk.
Pembekalan keterampilan tersebut tidak semata-mata diarahkan agar santri memiliki kemampuan menghasilkan sebuah produk, tetapi juga untuk menanamkan mental kemandirian dan etos kerja. Pendidikan pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu agama, tetapi juga mempunyai keterampilan untuk menjalani kehidupan secara mandiri.
Semangat tersebut selaras dengan nilai-nilai yang dipelajari santri dalam Ta’lim al-Muta’allim, khususnya mengenai pentingnya menjaga diri dari sifat tama’—yakni terlalu mengharapkan pemberian dari makhluk. Seorang yang berilmu diharapkan memiliki kehormatan diri, kemandirian, serta kemampuan untuk berikhtiar dalam menjalani kehidupannya.
Dalam konteks tersebut, keterampilan berwirausaha menjadi salah satu bekal penting bagi santri dalam menempuh perjalanan pengabdian dan perjuangan di jalan Allah (jihad fi sabilillah).
Santri Perlu Memiliki Mental Entrepreneur

Ustadz Fathul Fathoni, S.Pd., selaku tutor sekaligus pengampu pelajaran Matematika, menekankan pentingnya membangun jiwa entrepreneur di kalangan santri.
“Seorang santri harus mempunyai sifat entrepreneur yang kuat, agar dalam berdakwah agama tidak dijadikan kedok atau ajang bisnis.”
Menurutnya, proses menghasilkan sebuah produk yang berkualitas membutuhkan ketelitian, perencanaan, serta perhitungan yang tepat. Hal tersebut juga menjadi bagian dari pembelajaran yang dapat diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam penyampaian materi, ia memberikan gambaran mengenai proses pembuatan susu kedelai sekaligus mengajak para santri memahami aspek perhitungan usaha. Mulai dari kebutuhan modal, biaya produksi, proses pengolahan, hingga perhitungan potensi hasil yang diperoleh.
Pendekatan tersebut membuat pembelajaran kewirausahaan menjadi lebih konkret karena santri tidak hanya menerima teori, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana ilmu perhitungan dapat diterapkan dalam pengelolaan sebuah usaha.
Santri Harus Memiliki Wawasan Global
Sementara itu, Prof. Dr. KH. Abdul Matin bin Salman, Lc., M.Ag., selaku Mu’assis Pondok Pesantren Itqan al-Qur’an al-Salmaniyah sekaligus dosen UIN Raden Mas Said Surakarta, menyampaikan bahwa lulusan pesantren perlu memiliki kemampuan yang luas dan beragam.
“Santri lulusan pesantren harus bisa semuanya (ngabehi, bahasa Jawa). Ora mung pinter wiridan lan ngaji, tapi harus mempunyai pemikiran global,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya pendidikan pesantren yang mampu memadukan penguasaan ilmu agama dengan wawasan kehidupan yang lebih luas. Santri diharapkan mampu membaca perkembangan zaman, memiliki keterampilan, serta dapat berkontribusi di berbagai bidang kehidupan masyarakat.
Memperkuat Ilmu Agama dengan Ilmu Sosial
Pengasuh Pondok Pesantren Itqan al-Qur’an al-Salmaniyah, Kyai Syahirul Alim, S.Ag., Alhafidz, turut menyampaikan bahwa semangat santri dalam menuntut ilmu hendaknya tidak berhenti pada kemampuan literasi dan kajian keagamaan semata.
Menurutnya, proses pendidikan santri perlu diperkuat dengan berbagai ilmu yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sosial masyarakat, termasuk ilmu kewirausahaan.
Semangat belajar, keterampilan, dan kemandirian menjadi bekal penting bagi santri agar setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren, mereka mampu mengambil peran di tengah masyarakat. Dengan demikian, santri tidak hanya hadir sebagai pribadi yang memiliki kemampuan dalam ilmu agama, tetapi juga sebagai insan yang produktif, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Melalui kegiatan praktik pembuatan susu kedelai ini, PPIQS berupaya membangun paradigma bahwa pendidikan pesantren tidak hanya tentang menghafal dan memahami ilmu, tetapi juga tentang bagaimana ilmu tersebut diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Harapannya, para santri memiliki bekal yang seimbang: kuat dalam ilmu agama, berakhlak, mandiri secara ekonomi, memiliki keterampilan, serta berpikiran luas dan global, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata bagi umat dan masyarakat.


